Varietas padi unggul IPB 2 Batola yaitu jenis padi lokal Kalimantan Selatan, Siam Unus, namun dengan masa panen lebih pendek kini mulai dikembangkan dan ditanam di Kabupaten Barito Kuala.
        
Wakil Bupati Barito Kuala Sukardi di Banjarmasin, Sabtu, mengatakan, jenis padi tersebut merupakan hasil pemurnian dari padi siam unus yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor.
        
"Jenis padi IPB 2 Batola tersebut telah diserahkan Menteri Pertanian, Suswono, dalam kunjungan kerja di Desa Belawang Kecamatan Mandastana Batola pada Jumat (24/12)," katanya.
        
Saat ini, tambah dia, jenis padi IPB 2 Batola tersebut baru mulai uji coba dan dikembangkan pada empat galur di Desa Jejangkit. Bila hasilnya memang bagus baru akan dikembangkan secara massal.
        
Dengan dikembangkan jenis padi IPB 2 tersebut, kata dia, petani akan menghasilkan padi yang rasa dan bentuknya sama dengan siam unus dengan masa panen yang jauh lebih singkat.
        
Sebelumnya, Menteri Pertanian, Suswono, pada kunjungan kerja di Desa Belawang Kecamatan Mandastana Batola mengatakan, mengantisipasi terjadi anomali cuaca ekstrem, Kementerian Pertanian mengembangkan varietas unggul pada lahan rawa atau Inpara.
        
Selain itu, kata dia, juga dikembangkan Inpara juga dikembangkan Inpigo yaitu varietas padi untuk lahan kering pada saat kemarau dan Inpari yaitu varietasi yang tahan terhadap serangan wereng.
        
"Dengan varietas tersebut kami harapkan pemerintah akan mampu menghadapi kemungkinan terjadinya rawan pangan akibat cuaca ekstrem yang terjadi selama 2010 dan 2011," katanya.
        
Selain itu, kata dia, mengantisipasi terjadinya musim kemarau, pemerintah juga akan membangun 5.200 bendung atau kolam penampungan air hujan di seluruh kecamatan sentra pertanian.
        
Pada kesempatan tersebut, Suswono juga meminta masyarakat melakukan diversifikasi pangan dengan tidak bergantung pada beras untuk menghindari kemungkinan terjadinya rawan pangan.
        
Menurut dia, konsumsi beras rata-rata masyarakat Indonesia terhitung tinggi di kawasan Asia yakni mencapai 139 kilogram (kg) per kapita per tahun.
       
Angka tersebut kata dia, jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan penduduk Malaysia yang mencapai 80 kg/kapita/tahun.
        
Dengan demikian diharapkan, selain beras masayrakat juga mengonsumsi jagung, ubi dan lainnya.
        
"Yang terjadi dimasyarakat kendati sudah makan jagung dua bonggol, ubi dan lainnya terasa belum makan kalau belum makan nasi," kata Suswono disambut tawa masyarakat.
        
Hal tersebut berbanding terbalik dengan konsumsi daging sapi dimana masyarakat Malaysia sudah mencapai 30 kg per kapita per tahun, sedangkan Indonesia masih 7 kg per kapita pertahun.
        
"Konsumsi daging kita masih sangat rendah dan itu harus terus ditingkatkan," katanya.
        
Walaupun tingkat konsumsi daging sapi Indonesia masih rendah, kebutuhan daging di negara ini belum bisa terpenuhi secara mandiri (swasembada) sehingga harus impor.
        
Kebutuhan sapi impor tahun 2010 mencapai 600 ribu ekor yang seluruhnya didatangkan dari Australia karena peternak sapi potong lokal hanya mampu mencukupi kebutuhan sekitar 70-75 persen.*B*

Editor: Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar