Kamis, 19 Oktober 2017

PSSI: Selisih Paham LIB-Klub Karena Salah Komunikasi

id PSSI, Ketua PSSI, LIB, Barito Purta vs Persib Bandung
PSSI: Selisih Paham LIB-Klub Karena Salah Komunikasi
Ketua KONI Pusat Tono Suratman (kiri) berjabat tangan dengan Ketua Umum PSSI Letjen TNI Edy Rahmayadi (kanan) pada pelantikan dan pengukuhan pengurus PSSI masa bakti 2016-2020 di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (27/1/2017). (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan).(Antaranews.com)
Jakarta,  (Antaranews Kalsel) - Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menyatakan bahwa penyebab selisih paham antara PT Liga Indonesia Baru (LIB) dan 15 klub Go-Jek Traveloka Liga 1 adalah kesalahan komunikasi.

"Karena itu semuanya seolah-olah kurang transparan dan terjadi kesalahpahaman. Namun saat ini seluruh persoalan sudah selesai," ujar Ketua Umum PSSI Letnan Jenderal TNI Edy Rahmayadi usai melakukan pertemuan dengan PT LIB dan seluruh klub Liga 1, kecuali Perseru Serui yang absen, di Jakarta, Selasa.

Selain itu, Edy melanjutkan, silang pendapat LIB dan 15 klub yang menamakan diri Forum Klub Sepak Bola Profesional Indonesia tidak akan membuat peserta liga mogok.

"Tidak pernah ada mogok. Itu wartawan saja yang mancing-mancing," tutur dia.

Edy pun menjelaskan beberapa hal yang menjadi pertanyaan Forum Klub Sepak Bola Profesional Indonesia kepada LIB. Pertama, terkait subsidi Rp7,5 miliar dari federasi kepada setiap tim.

Pria yang juga menjabat Panglima Kostrad ini menyebut bahwa dari awal sudah dijelaskan dana segar itu diberikan bertahap yaitu Rp1,5 miliar di awal musim, Rp516 juta perbulan dan Rp1 miliar terakhir di akhir kompetisi.

Kedua tentang siaran langsung pertandingan Liga 1. Edy memaparkan, soal itu termasuk penjadwalan siaran langsung merupakan hak stasiun televisi swasta TV One selaku pemegang hak siar Liga 1.

"Tentu mereka mempertimbangkan aspek bisnis dan rating. Rating Persib Bandung menjadi yang tertinggi, disusul berurutan Arema FC, Persija dan Bali United," kata dia.

Terakhir mengenai gaji pemain yang dipanggil tim nasional. Edy mengungkapkan, rencana awalnya gaji pemain yang dipanggil timnas ditanggung oleh PSSI, dengan catatan para pemain menjalani pemusatan latihan jangka panjang dan tidak kembali ke klub.

Akan tetapi, yang terjadi saat proses berjalan adalah para pemain timnas tidak melakukan pelatnas jangka panjang dan selalu kembali ke klub masing-masing usai berlatih dan bertanding di bawah panji Merah Putih.

"Itulah mengapa klub yang harus menanggung gaji pemain timnas. Dana Rp7,5 miliar kan untuk menggaji pemain," ujar Edy.

    

Susah Dihubungi

Manajer Persib Bandung Umuh Muchtar, salah satu perwakilan klub yang hadir dalam pertemuan antara PSSI, LIB dan seluruh tim Liga 1 itu, menyampaikan pihak operator liga terkadang sulit dihubungi oleh klub.

"Mungkin karena mereka sedang sibuk. Ini yang membuat terjadi kesalahpahaman," tutur Umuh, yang timnya tidak masuk dalam 15 tim dalam Forum Klub Sepak Bola Profesional Indonesia.

Namun, dia menegaskan semua masalah sudah diselesaikan dengan baik dan diterima seluruh pihak.

"Semua saling mengerti dan setuju mengikuti kesepakatan. Klub-klub meminta berikutnya sering diadakan pertemuan dengan operator, jangan terlalu lama tidak jumpa," kata Umuh.

Sementara Direktur Utama PT LIB Berlinton Siahaan menolak disebut pihaknya sulit untuk dihubungi. Akan tetapi, alih-alih membela diri lebih jauh, dia meminta semua pihak untuk introspeksi diri dan menyukseskan Liga 1 yang akan selesai kurang lebih satu bulan lagi.

LIB pun berjanji akan memperbaiki kekurangan-kekurangan dan meminta klub melakukan hal serupa.

"Soal-soal yang sifatnya bisa dikomunikasikan, cukup dibicarakan antara klub dan operator liga. Kalau memang tidak bisa diselesaikan, baru dibawa ke federasi," kata Berlinton./f

Editor: Asmuni Kadri

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga