Ulat Serang Pohon Mangga

Buah mangga yang sempat tua, namun pohonnya sering diserang hama./Antara

Warga di wilayah Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, resah menghadapi serangan hama ulat penggirik yang menyerang batang pohon mangga yang menyebabkan sebagian besar  tanaman rusak.



Hasil pemantauan di Banjarmasin, Sabtu, hampir terlihat banyak pohon mangga terkena serangan hama penggirik batang yang ditandai dengan layunya daun mangga, bahkan ada beberapa dahan mangga yang jatuh lantaran patah terkena serangan hama tersebut.

Seperti penuturan, Ny Saidah di Kompleks Mandiri Lestari di Jalan Sultan Adam, Banjarmasin, bahwa lima pohon mangga yang ia miliki jenis gadung, sekarang hampir mati terserang hama tersebut.

Walau berbagai upaya telah dilakukan, termasuk memberi suntikan pestisida ke batang atau memberikan bahan lainnya tetapi serangan hama itu tetap saja berlanjut.

Padahal pohon mangga tersebut, sebelum terkena serangan, buahnya lebat dan besar-besar serta rasanya sangat manis, katanya.

"Tetapi setelah terkena serangan jangan berbuah, satu persatu dahan pohon berjatuhan ke tanah, dan terlihat lubang-lubang kecil di dahan dan pohon dan dari dalam lubang itu keluar kotoran seperti serbuk batang bekas hama tersebut," tuturnya.

Bukan hanya di bilangan Jalan Sultan Adam serangan hama itu terlihat tetapi juga di hampir wilayah Kota Banjarmasin, seperti di kawasan Pekapuran, Pekauman, Kelayan, Kuripan dan lainnya.

Menurut penuturan beberapa warga dindaerah tersebut, serangan itu juga terjadi secara serempak di berbagai wilayah Kalsel.

Ir Normansyah, seorang penyuluh pertanian Kalsel mengakui serangan ulat penggirik batang memang susah diberantas di wilayah Kalsel, lantaran wilayah ini berhawa lembab yang sangat ideal bagi ulat penggirik batang berkembang biak.

Hama ini sulit diberantas walau dengan racun jenis apapun, kecuali bila di sekitar mangga itu terdapat banyak sarang semut merah (serangga) maka ulat penggirik batang tidak berani menyerangnya.

Hanya saja di wilayah ini banyak sarang semut merah itu dirusak oleh manusia untuk diambil anak-anak semut yang digunakan untuk umpan pancing, umpan ikan peliharaan atau makanan burung peliharaan, akhirnya dimana-mana semut merah ini sudah mulai jarang kelihatan.

Oleh karena itu, oleh Departemen Pertanian untuk wilayah Kalsel tidak direkomendasikan dikembangkan tanaman mangga, kecuali mangga varietas lokal.

"Kalau mangga bibitnya didatangkan dari daerah lain, umpamanya bibit mangga asal Pulau Jawa, jelas sudah akan terkena serangan ulat tersebut," kata Normansyah.

Varietas yang tahan terhadap serangan hama itu hanyalah mangga lokal, seperti hampalam, kuini, kasturi, hambawang, dan jenis lokal lainnya, katanya.hsn/B

Editor: Asmuni Kadri
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar