Oleh Syamsuddin Hasan

Banjarmasin, (Antaranews.Kalsel) - Keluarga atau warga masyarakat yang tergolong mampu diminta jangan mengunakan gas elpiji bersubsidi yang merupakan jatah bagi mereka kurang mampu atau tergolong miskin.

Permintaan itu dari Ketua Komisi III bidang pembangunan dan infrastruktur DPRD Kalsel H Puar Junaidi, di Banjarmasin, Senin, menanggapi persoalan gas elpiji dengan tabung isi tiga kilogram (Kg).

"Gas elpiji tabung isi tiga Kg itu sebenarya untuk golongan masyarakat menengah ke bawah atau kurang mampu dan miskin. Jadi bukan buat orang-orang yang berkemampuan atau kaya," tandasnya.

Karenanya Ketua Komisi III DPRD Kalsel yang juga membidangi pertambangan dan energi (termasuk bahan bakar minyak/gas) itu, menyayangkan urang-urang mampu ikut mengambil jatah mereka yang kurang mampu atau miskin.

"Oleh karena urang-urang mampu juga menggunakan gas elpiji bersubsidi, sehingga jatah mereka yang semestinya mendapat hak tersebut menjadi berkurang dan membuat gejolak harga elpiji tabung isi tiga kg," lanjutnya.

Mengenai kenaikan harga elpiji tabung isi tiga kg di Banjarmasin dan sekitarnya, anggota DPRD Kalsel dua periode dari Partai Golkar itu menganggap tidak masalah, asalkan jangan terlalu tinggi dan bukan di pangkalan.

Begitu pula masalah kelangkaan elpiji terutama tabung isi tiga kg, hendaknya menjadi perhatian pihak berwenang yang terkait, agar tidak membuat masyarakat galau.

Faktor lain yang membuat kelangkaan dan kenaikan harga elpiji tabung isi tiga kg, menurut dia, karena masyarakat daerah yang belum mendapat konversi minyak tanah juga turut menggunakan.

Selain itu, terjadi perdagangan bebas tanpa pengawasan yang ketat, misalnya jatah Kalsel dijual/dibawah pedagang ke daerah tetangga, demikian Puar Junaidi.

Sementara harga gas elpiji tabung isi tiga kg di Banjarmasin dan sekitarnya terkadang mencapai Rp20.000, padahal harga resmi dari pemerintah cuma Rp15.000 atau paling tinggi Rp16.000 (harga di pangkalan). 

Editor: Imam Hanafi
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar