Oleh Ulul Maskuriah

Banjarmasin,  (Antaranews Kalsel) - Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin mengatakan pihaknya menargetkan pada 2015 pertumbuhan ekonomi di provinsi yang dipimpinnya bisa mencapai 6 hingga 6,9 persen.

Menurut Gubernur, di Banjarmasin Jumat, target tersebut didukung oleh pertumbuhan pembangunan di berbagai sektor di Kalsel dalam beberapa tahun terakhir yang cukup postif.

"Kita terus meningkatkan pertumbuhan berbagai bidang, terutama infrastruktur, pertanian, perkebunan, peternakan, serta pengembangan sektor hortikultura, untuk mengurangi ketergantungan pemenuhan kebutuhan pokok dengan daerah lain," katanya.

Khusus untuk kondisi pertumbuhan ekonomi 2012, tambah Gubernur, memang terjadi sedikit penurunan akibat lesunya perekonomian global.

Pada 2011, Kalsel mampu mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 6,12 persen dan pada 2012 turun menjadi hanya 5,73 persen.

Kendati terjadi penurunan, tambah dia, namun bila dibandingkan tahun 2009, dimana pertumbuhan ekonomi hanya sekitar 5,01 persen dan 2010 5,58 persen, maka penurunan tersebut masih jauh lebih baik.

"Ini artinya perekonomian di daerah kita tetap bergulir dengan baik, sehingga saya tetap optimistis pertumbuhan ekonomi Kalsel masih bisa mencapai 6,9 persen," katanya.

Mendukung target tersebut, tambah Gubernur, pada 2014 Kalsel membuat enam sasaran makro pembangunan provinsi, yaitu pertumbuhan ekonomi 6,0-6,6 persen, lajui inflasi, 6,0-6,5 persen.

Selanjutnya, tingkat pengangguran terbuka, 5,50 persen, tingkat kemiskinan sebesar 4,25 persen, indeks pembangunan manusia (IPM) 73,06 persen dan pertumbuhan penduduk 1,52 persen.

Sebelumnya, berdasarkan data dari Bank Indonesia menyebutkan turunya ekspor batu bara, menjadi salah satu faktor penghambat pertumbuhan ekonomi Kalse pada triwulan III dan IV.

Turunnya permintaan batubara dari mitra dagang utama seperti Cina, Jepang, Korea, dan India, beberapa perusahaan batubara mulai mengurangi intensitas produksi untuk mengantisipasi adanya over stok yang lebih besar lagi.

Kondisi ini diperkirakan mempengaruhi kinerja sektor pertambangan, yang juga mempengaruhi perlambangan kinerja sektor pendukung lainnya seperti transportasi dan penyewaan alat berat.

Melambatnya pertumbuhan ekspor tersebut, membuat laju pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan di triwulan III-2012 tumbuh sebesar 4,91 persen, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan II-2012 yang berhasil mencapai 6,03 persen.

Dari sisi permintaan, melambatnya laju pertumbuhan ekonomi banyak dipengaruhi oleh kontraksi yang dialami oleh aktivitas ekspor, terutama untuk komoditas batubara akibat melemahnya permintaan negara mitra dagang sebagai imbas dari krisis global yang belum cenderung membaik.

Meskipun demikian, kinerja konsumsi masih cukup kuat, terutama konsumsi pemerintah yang mengalami percepatan selama triwulan laporan seiring meningkatnya aktivitas investasi daerah.

Sementara peningkatan konsumsi pemerintah yang dipengaruhi oleh realisasi proyek fisik diperkirakan akan terus mengalami peningkatan sampai dengan akhir tahun 2012.

Dari sisi penawaran atau sektoral, melambatnya laju pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan dipengaruhi oleh melambatnya kinerja sektor dominan, terutama sektor pertambangan.

Editor: Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar